Showing posts with label Gereja Blenduk. Show all posts
Showing posts with label Gereja Blenduk. Show all posts

Monday, February 9, 2015

Generator Dinamika Kota

Dan jika kota dipandang sebagai kumpulan bangunan, bagaikan bangunan yang terdiri dari kumpulan batu-bata atau material lainnya, maka bangunan dapat dianggap sebagai generator aktifitas kehidupan kota. Setiap bangunan memiliki kehidupan dan peran tersendiri terhadap dinamika kota. Baik bangunan yang mewadahi kehidupan pasif seperti gudang ataupun kehidupan yang sangat aktif seperti pasar. Dinamika kota terletak pada kehidupan tiap-tiap bangunannya. Bangunan pertokoan memiliki peran terhadap dinamika kota dari jam 08.00 sampai jam 21.00. Namun bangunan perkantoran hanya mampu memberi peran dari jam 08.00 sampai jam 16.00 saja.   

Sehingga   terlepas   dari   soal pariwisata, selain tidak serasi dengan fungsi   ibadah   gereja   Blenduk, pengadaan hiburan malam disitu tidak akan semeriah pengadaan hiburan malam serupa di Simpang-lima.   Hal  ini  disebabkan oleh perbedaan dinamika kegiatan bangunan-bangunan di kedua tempat ini. Di seputar Simpang-lima terdapat bangunan-bangunan seperti pertokoan, gedung bioskop, hotel yang semakin semarak kala matahari mulai tenggelam.

Sebaliknya Jalan Letjen Soeprapto di malam hari bangunan-bangunan di situ mulai tertidur, karena   kegiatan   perkantoran yang   sudah   berhenti,   dengan demikian suasananyapun menjadi kurang meriah. Apalagi tidak setiap orang menyenangi pentas-pentas terbuka yang memberi peluang bagi para pencopet untuk beroperasi. Bukan karena hiburan malam yang membuat kota lama Semarang menarik, tetapi penataan kembali wajah jalan dan bangunan kuno di situ sehingga mampu  meningkatkan  kwalitalis tata ruang kota, itulah yang menarik.

Lingkungan gereja Blenduk yang bersih dan indah serta tidak gelap di malam hari sudah merupakan daya tarik tersendiri. Di dalam suasana malam yang terang oleh lampu jalan namun sepi, kiranya para kupu-kupu malampun akan lebih mudah dirazia dari pada di dalam suasana yang ramai seperti di Simpang-Lima. Mengingat bangunan-bangunan di sepanjang jalan Letjen Soeprapto adalah perkantoran, tentunya suasana lengang di malam hari adalah hal yang wajar.

Konservasi bangunan kuno di kota lama sudah saatnya untuk dilaksanakan. Baik dalam rangka peningkatan kwalitas tata ruang kota bagi warga Semarang, atau-pun sebagai cikal bakal pariwisata. Tetapi program-program pendukung pendanaan yang konon berpola subsidi silang perlu dipikirkan lagi sehingga tidak merusak makna peningkatan kwalitas tata ruang kota melalui konservasi bangunan-bangunan kunonya. Kata konservasi sendiri memang bukan berarti pelestarlan yang pasif, namun juga bukan berarti kedinamisan yang berlebih-lebihan sehingga tidak realistis lagi.

Gereja Blenduk

Pariwisata di Semarang

Berbeda dengan Semarang yang sampai sekarang masih jarang di kunjungi wisatawan, terlebih-lebih wisatawan asing. Tentunya untuk merencanakan kota ini menjadi suatu kota pariwisata seperti Yogyakarta haruslah didasari pertimbangan untuk menumbuhkan suatu obyek wisata baru yang nantinya mampu menyedot arus wisatawan untuk berdatangan dan membelanjakan uangnya disini.

Mengenai calon obyek wisata yang cukup potensial tentunya kita semua setuju untuk menunjuk kawasan kota lama. Dari bagian kawasan yang berarsitektur kolonial sampai yang pecinan. Namun yang terakhir ini telah mengalami kerusakan yang sangat parah bahkan wajah street scape disini sudah tidak terlihat lagi gaya arsitektur Pecinannya. Sehingga antara dua kawasan ini yang ber-arsitektur kolonial lebih mudah ditangani dalam tempo dekat.

Masalahnya, bangunan kuno kolonial disini masih berfungsi dengan sempurna, baik sebagai gedung gereja, maupun perkantoran. Andaikata seperti Benteng Vredeburg di Yogyakarta yang sebelum dipugar sudah tak berfungsi dan kondisinya tak layak untuk dihuni, tentunya jalan Let Jen Soeprapto terutama di depan gereja Blenduk dengan mudah dikembangkan menjadi pusat kesenian lengkap dengan berbagai hiburannya. Agaknya karena masih berfungsi dengan baik inilah, pembangunan plaza hiburan disitu tidak realistis. Apalagi bila diingat bahwa gereja Blenduk adalah bangunan ibadah yang tidak terbatas pada siang hari saja tetapi di malam haripun bukan halangan untuk datang dan berdoa di situ. Sedang suara klakson mobil saja sudah mengusik suasana yang kusuk lebih-lebih suara orkes dari pentas seni di depan-nya.



Plaza Hiburan

Benarkah program konservasi bangunan kuno di Semarang perlu di dukung hiburan malam, yang mana satu usulan yang ideal berupa pembangunan sebuah plaza di depan gereja Blenduk? Merupakan pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan. Karena konservasi bangunan kuno selama ini mengandung dua interpretasl, antara menjawab kebutuhan pengembangan  pariwisata,   dan menjawab   kebutuhan   masyarakat akan tataruang kota yang tidak hanya indah namun juga memiliki nilai bistorts kesinambungan antara masa lalu dan sekarang.

Memang satu kenyataan yang tidak dapat disangkal lagi bahwa terjadinya pergerakan manusia di atas bumi untuk berwisata tidak hanya untuk melihat pemandangan alam yang tidak ada di daerah asalnya, atau menyaksikan karya arsitektur yang masterpiece. Tetapi juga mencari hiburan baik yang positif berupa menyaksikan pertunjukan kesenian, olah raga sampai hiburan-hiburan malam seperti judi dan pelacuran.

Walaupun demikian, masih banyak wisatawan yang memilih suasana tenang, keindahan visual baik yang alami ataupun buatan (karya arsitektur), dari pada sua-sana yang hiruk-pikuk. Wisatawan asing di pulau Bali ada yang memilih pantai Legian dari pada pantai Kuta yang sudah terlalu ramai dengan disko, rumah makan ala barat yang membuat kawasan ini berwajahkan 'barat di bumi timur'. Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk membuat menarik untuk dikunjungi wisatawan, satu daerah pariwisata tidak harus 'Full of amusement' (penuh dengan aneka hiburan).

Masalah tanpa keharusan akan 'Full of amusement' ini sangat jelas terlihat di Yogyakarta. Membanjirnya wisatawan asing di sana misalnya, bukan karena tersedianya rupa-rupa hiburan, tetapi karena di kota ini terdapat Kraton Nyayogyakarta-Hadiningrat lengkap dengan segala bentuk kebudayaannya, serta kompleks bangunan tradisional Kotagede, pantai Parangteritis, dan candi-candi terkenal di sekitarnya. Pada acara Sekatenanpun wisatawan asing mengunjungi Alun-alun utara bukan untuk melihat orkes dhangdhut, stand bolang-baling, ataupun arena 'tong-setan'. Melainkan justru datang ke sana untuk menyaksikan upacara tradisional yang unik, pasukan Kraton yang warna-warni, sehingga memperkaya pengetahuan mereka akan kebesaran bangsa Indonesia.

Dan yang tidak kalah menarik untuk dipertanyakan adalah, mana yang ada lebih dulu di Yogyakarta, wisatawan asing atau fasilitas-fasilitas pariwisata seperti toko-toko souvenir, hotel-hotel berbintang. Jawabnya tentu wisatawan asing ada lebih dulu, sehingga menimbulkan daya tarik penanaman modal guna mendirikan berbagai macam fasilitas pariwisata. Dari dialog ini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa Yogyakarta dan sekitarnya sudah menarik bagi wisatawan asing kendati tanpa fasilitas pariwisata, bahkan yang 'Full of amusement' sekalipun.

Plaza Gereja Blenduk