Showing posts with label Pertumbuhan Semarang. Show all posts
Showing posts with label Pertumbuhan Semarang. Show all posts

Monday, February 9, 2015

Fragmentasi Ruang

Gejala pertumbuhan Semarang sebagai kota raya semenjak orde baru dapat dilihat dalam dua hal yakni: Fragmentasi ruang -- atau terpecah-pecahnya perkembangan kota tanpa kendali -- dan pergeseran pusat kota dari utara (oude stad) ke selatan (Simpang lima). Secara ekonomi, Semarang memang menunjukkan laju pertumbuhan yang pesat, tetapi secara artefak memiliki masalah karena ada bagian-bagian kota yang dulu hidup sekarang mati.

Selama hampir dua dekade ini pertumbuhan Semarang telah berjalan dengan kecepatan yang maha dahsyat. Sehingga, dari wujud fisik telah melewati batas administratif dengan mencaplok desa dan kota-kota kecil di sekitarnya seperti Kali Banteng (di sebelah Timur Semarang) dan Ungaran (di sebelah Selatan Semarang). Dua puluh tahun yang lalu di sepanjang jalan antara Semarang dan Kali Banteng banyak terdapat tanah kosong yang dimanfaatkan sebagai sawah ataupun tegalan. Sekarang disepanjang jalan tadi dijumpai deretan toko yang tak putus-putusnya. Jelas gejala ini mengurangi produktifitas lahan pertanian karena perubahan fungsi.

Demikian pula sepanjang jalan antara Semarang dan Ungaran yang dulu berupa tanah persawahan. Sekarang hampir tiap jengkal tanah yang masih kosong telah disiapkan guna difungsikan baik sebagai tempat industri maupun sebagai area perumahan. Fungsi baru ini tentu saja memberi dampak berupa berkurangnya luas lahan terbuka yang mampu menyerap air. Akibatnya banjir di wilayah kota Semarang bagian bawah tidak pernah dapat dihindarkan lagi. Selain itu perkembangan ini juga menjadi indikasi bahwa Semarang benar-benar menjadi metropolis yang tumbuh tanpa kendali.

Bahkan fragmentsi ruang terjadi di bagian Utara kota yang berbatasan dengan laut Jawa. Tanah yang sebelumnya merupakan rawa dan tambak, sekarang menjadi area perumahan dan berbagai peruntukan lainnya. Walaupun dari kacamata pertumbuhan kota menunjukkan bahwa Semarang telah menjadi metropolis, namun fragmentasi ruang dengan area pemukiman maupun industri yang baru memberi akibat pada kerancuan perencanaan kota dan menimbulkan banyak sekali kesulitan di dalam mengambil keputusan dalam rangka pembangunan kota yang terpadu.
 
Fenomena perubahan dari "pusat kota" menjadi daerah "pinggiran" atau peripheri tampak jelas di Semarang. Di jaman Belanda, pusat kota ini adalah oude stad yang dilengkapi dengan Gereja Blenduk, gedung bank dan perkantoran, setasiun Tawang dan stasiun sentral Jurnatan. Sekarang, beberapa bagian dari oude stad ini  bisa disebut sebagai daerah pinggiran. Selain bangunan-bangunan kuno di situ banyak yang terbengkalai, daearah tersebut selalu mengalami banjir dan jalan-jalannya rusak. Ini yang membuat penduduk kota tidak ingin lagi tinggal disitu. Di malam hari, bagian tua kota Semarang yang mirip Amsterdam ini menjadi demikian sunyi dan menjadi tempat mangkalnya para penjaja cinta. Dilain pihak Simpang Lima yang dulu merupakan daerah pinggiran yang masih berupa rawa, sekarang menjadi ajang perebutan para investor untuk mendirikan bangunan-bangunan pusat perbelanjaan dan rekreasi. Sayangnya, pusat-pusat kota yang baru tidak pernah direncanakan secara kontekstual dengan oude stad tadi sehingga oude stad tertinggal merana. Tanpa dedikasi yang tinggi untuk menanam investasi disini tampaknya sangat mustahil usaha menghidupkan kota lama ini. Sementara itu kerusakan demi kerusakan yang melanda bangunan dan infrastruktur disitu tak dapat dicegah lagi. Mampukah Pembangunan yang menggelora ini menyelamatkan oude stad dari kematian yang berkepanjangan? Sejarah kota akan berakhir dan bahkan menjadi mati manakala interaksi ekonomi melemah dan kemudian menghilang walaupun tatanan fisik tadi masih tetap utuh seperti sediakala.




Koloniale Tentoonstelling


Semarang memang bukan main! Sedini tahun 1914 di kota pantai ini telah diadakan Pameran produksi yang luar biasa besarnya menurut ukuran pada waktu itu. Pameran ini disebut sebagai Algemeene Koloniale Tentoonstelling te Semarang. Pintu utama ke arena Tentoonstelling (pameran) nya menggunakan portal baja yang megah dengan dikelilingi bangunan yang didisain secara khusus oleh Maclain Pont. Pameran ini berusaha menunjukkan bahwa Hindia Belanda pada waktu tidak kalah hebat dengan Negeri Belanda sebagai Induknya. Tentu saja di arena pameran ini bukan hanya hasil produksi yang dikuasai oleh kulit putih tetapi juga kerajinan tangan hasil karya Bumi Putra yang sangat membanggakan. Tidak kurang beberapa negara asing ikut berpartisipasi seperti misalnya Jepang, Formosa, Cina, Perancis, Amerika serikat, British India, Indocina dan Australia. Letak dari Tentoonstelling ini adalah di Mugas yang mana di latarbelakangi oleh perbukitan rendah. Untuk memudahkan transportasi ke kota Semarang yang waktu itu masih ada di sekitar oude stad, pihak kota praja membangun sebuah jalur tram yang khusus untuk mencapai tempat ini. Yang menarik dari pameran internasional ini adalah rasa bangga dari warga kota -- yang tentunya dikuasai oleh warga kulit putih -- akan seni budaya Jawa sehingga poster pamerannya secara jelas bergambar seorang gadis Jawa yang memakai pakaian wayang orang.

Sayangnya, pameran internasional yang menempati 26 ha lahan ini telah hilang dari sejarah Semarang sendiri. Didalam catatan sejarah kota yang diperingati setiap tahunnya, tidak pernah menyebutkan pameran internasional yang meraksasa ini. Menurut buku laporan tentang Koloniale Tentoonstelling ini yang penulis temukan di Koninklijk Instituut voor de Tropen di Amsterdam, pameran ini menunjukkan bahwa pemikiran modernitas sebenarnya datang lebih awal ke Semarang dari pada ke Batavia yang sekarang disebut Jakarta. Semarang terlebih dahulu menjadi satu Metropolis dalam arti kegiatan perkotaannya. Bahkan para arsitek muda yang datang dari Belanda, seperti Maclain Pont dan Thomas Karsten, lebih memilih Semarang untuk membuka kantornya dari pada di Batavia. Kini dengan sistem pemerintahan yang kembali tersentralisasi di Jakarta tentu saja Semarang sebagai kota di "daerah" banyak kehilangan fungsi-fungsi yang bersifat internasional. Konsulat dan kantor dagang asing sudah tidak ada lagi dikota ini. Walaupun jika dilihat dari jumlah penduduk dan wilayah pemekaran kotanya, sekarang Semarang dengan jumlah penduduk hampir dua juta jauh lebih gigantis dari pada Semarang ditahun 1914, tetapi toh kota ini menjadi semacam hinterland (daerah belankang) nya Jakarta.

 
Koloniale Tentoonstelling

Semarang pada waktu itu menjadi besar karena ia mampu menjadi pusat pemasaran dari produk hasil bumi dari hinterland yang demikian makmur. Pengaruh perdagangan ini sungguh tidak bisa dibatasi oleh batas-batas administrasi di sekitar Kanjengan, Pecinan  dan oude stad, tetapi telah menjamah daerah-daerah lain seperti Jomblang dan Bulu yang kemudian menyatu menjadi sebuah kota besar. Sungguh tidak mungkin kalau kita mengenal Semarang hanya sebagai kota Belanda saja, justru desa dan kampung disekitarnya yang padat oleh penduduk pribumi dan para pendatang dari Asia lainnya yang mendorong laju perkembangan tadi. Bila sebuah kota sukses didalam fungsinya sebagai pusat transaksi ekonomi dan jasa pelayanan, maka kota tadi akan mulai berkembang dengan jumlah penduduk dan luasan ruangnya. Maka dari itu semua kota yang dinamis selalu menginvasi daerah disekitarnya sebagaimana Semarang yang dikembangkan dari 9 kecamatan menjadi 11 kecamatan ditahun 1976 dan beberapa tahun kemudian berkembang menjadi 16 Kecamatan.

Sistem Desentralisasi

Sejalan dengan booming ekonomi tadi, pertumbuhan kota dan permasalahan urbannya membuat sistem pemerintahan yang tersentralisasi di Batavia tidak dapat lagi dipakai untuk mengelola kota terutama dengan munculnya masalah-masalah perumahan dan infrastruktur. Untuk merespon permasalahan ini di tahun 1903 pemerintah kolonial Belanda mengumumkan sistem management kota yang terdesentralisasi dari pusat kekuasaan di Batavia. Didalam sistem yang baru ini, kota-kota besar diijinkan untuk mengelola administrasi, kekuasaan serta finansial melalui sebuah dewan kota yang otonom dari pemerintah pusat. Tiga tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1906 sistem desentralisasi ini berlaku di Semarang.

Pertumbuhan yang sporadis semenjak booming ekonomi di akhir abad lalu membuat Semarang menjadi padat penduduknya. Sejalan dengan arus urbanisasi, muncul pula daerah-daerah kumuh. Di perkampungan di sekitar Kanjengan (rumah bupati) termasuk Pecinan misalnya, kepadatan penduduk mencapai 1000 orang / Ha. Hal ini mengakibatkan lingkungan tidak sehat dan muncul berbagai macam penyakit seperti kolera dan tuberkulose dengan tingkat kematian mencapai 64,3/ 1000 jiwa. Bahkan seorang apoteker, Tilema, menggambarkan bahwa tingkat kematian di kota ini lebih tinggi dari pada tingkat kematian di negara manapun di Eropa pada waktu itu.

Dengan adanya sistem desentralisasi ini, maka dewan kota lebih leluasa didalam mengelola Semarang. Langkah pertama yang diambil adalah mengurangi jumlah penduduk di pusat kota yang sudah tidak layak huni lagi. Alternatif pertama adalah pengembangan ke arah utara mendekati pantai. Namun karena daerah ini penuh dengan rawa yang selain dipergunakan untuk menampung air hujan juga merupakan daerah yang tidak sehat, maka dewan kota memutuskan untuk mengembangkan kota ke arah perbukitan dengan menggusur pekuburan Tionghoa. Rancangan kota baru ini baru tercapai setelah seorang arsitek muda Thomas Karsten mengemukakan rancangannya. Setelah dibangun daerah tadi disebut sebagai Candi baru.


Simpul Perekonomian

Sejarah Semarang dimulai dengan keberadaannya sebagai tempat perdagangan antara penduduk pribumi dan pedagang dari Tiongkok di pinggir Kali Semarang, tepatnya pasar Pedamaran. Sebagai tempat yang strategis bagi expansi militer VOC, maka Belanda yang menguasai kota ini sejak awal abad 17 mendirikan bentengnya di Sleko di akhir abad yang sama. Mereka menyelenggarakan satu kota praja kecil di dalam benteng tadi. Di dalam perjalanan sejarahnya, kota yang bermula dari pemukiman kecil di sepanjang kali Semarang ini sekarang telah berubah menjadi satu kota besar dengan gedung-gedung modern dan pusat-pusat kota yang tidak lagi di pinggiran sungai tetapi melebar melampaui batas pandang penduduknya.

Dalam konteks fungsinya sebagai simpul perekonomian, pertumbuhan Semarang yang pesat sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan abad ke 19, yakni pada saat terusan Suez dibuka tahun 1869. Pembukaan terusan ini memberikan dampak percepatan hubungan perdagangan antara benua Asia dan Eropa yang mana tidak perlu lagi melalui semenanjung harapan di Afrika Selatan. Menanggapi angin baik ini pemerintah Kolonial selain menghapus sistem kultur Stelsel yang tidak menguntungkan itu juga mengijinkan pengusaha yang bukan kulit putih untuk membuka usaha perkebunan. Di Semarang muncul pengusaha perkebunan termaysur Oei Tiong Ham. Perubahan kebijakan dibidang perkebunan yang sebelumnya dimonopoli oleh orang Belanda ini memberikan booming ekonomi yang menjadi-jadi. Kota Semarang menjadi sangat terbuka bagi lapangan kerja baru yang modern sejalan dengan dibangunnya perkantoran di oude stad (kota lama). Senada dengan pertumbuhan ini jalan-jalan baru dibuka  dimana satu jalan terpenting yang menghubungkan bagian barat dan timur kota di buka di tahun 1901. Jalan ini dinamai Pieter-Sythoff-Laan atau yang sekarang dikenal sebagai jalan Pandanaran. Jalan ini sangat penting bagi pembentukan kota Semarang masa kini dengan Simpang Limanya.