Showing posts with label Simpang Lima. Show all posts
Showing posts with label Simpang Lima. Show all posts

Monday, February 9, 2015

Fungsi Primair dan Sekunder

Lebih jauh lagi, bila kita. menata Simpang lima tentu perlu mengetahui fungsi-fungsinya secara pasti. Pembagian fungsi ruang menjadi fungsi ‘Primair’ dan fungsi 'Sekundair'. Fungsi ‘Primair' adalah fungsi yang secara konkret kita rasakan, sedang fungsi ‘Sekundair’ adalah fungsi yang bersifat simbolis saja. Fungsi 'Primair' dari Simpang lima dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Sebagai titik simpul sirkulasi kota atau persimpangan lima jalan,  dimana untuk mengatur supaya tidak serawut tiap-tiap kendaraan harus memutari lapangan Pancasila ke arah kiri.
  2. Adalah tempat untuk rekreasi dan berbelanja. Dimana selain pertokoan, gedung bioskop; hotel, juga pedagang kaki lima.
  3. Sebagai tempat beribadat. Baik masjid Baiturrahman, maupun   lapangan   Pancasila sendiri  pada  hari-hari tertentu misalnya Idul-Fitri.
  4. Tempat fungsi ‘Sekundair’ adalah sebagai simbol masyarakat kota yang demokratis. Fungsi yang simbolis ini terbaca melalui bangunan-bangunan umum yang mengitari Simpang lima yang mana tidak ada bangunan yang paling menonjol fungsinya juga, di Simpang ini dilakukan rapat umum, kampanya, dan sebagainya. Rapat umum dan kampanye adalah fungsi 'Primair', tetapi dari kegiatan itu secara   simbolis tentu fungsi  'Sekundair'nya yaitu demokrasi.

Berpijak dari dua macam fungsi inilah, seharusnya kita menata 'Simpang lima.

Apabila Lecorbusier mengatakan bahwa 'A house is a machine to live in’, bahkan secara ekstrem dia memberi contoh-contoh seperti kursi adalah mesin untuk duduk, tempat tidur adalah mesin untuk tidur. Dalam satu interpretasi yang berbeda, kota sebagai mesin yang walaupun hanya satu onderdilnya saja yang rusak mesin atau kota tersebut akan berjalan pincang.

Alun-alun Lama

Kardiovaskuler yang Tak Beres

Penataan kota yang terpadu harus merupakan satu koordinasi yang kompak antara faktor sirkulasi dan faktor tata guna tanah. Tentu dapat disimpulkan bahwa keadaan Simpang ini yang ramai dikunjungi orang, adalah akibat dari hubungan timbal balik antara fungsi-fungsi bangunan di sana dengan sistem aliran sirkulasi di dalam kota, di mana simpang lima merupakan titik simpul yang besar. Keterpaduan inilah yang membuat suasananya hidup.

Berdasarkan teori tersebut, maka usulan untuk menutup persimpangan ini dari kendaraan di malam Minggu nampak janggal. Karena dengan tertutupnya simpang lima bagi kendaraan. diharapkan dapat ditata menjadi tempat hiburan. walaupun fungsinya sebagai persimpangan lalu-lintas atau titik simpul sirkulasi kota dihilangkan. Bukankah ramainya Simpang lima karena dia adalah persimpangan dari lima jurusan?

Di samping itu akan timbul masalah yang kompleks pada jalan-jalan di sekitarnya seperti jalan Airlangga, jalan Mentri Supeno, jalan Pandanaran I dan II, jalan Seroja, serta jalan Ki Mangun Sarkoro. akan mengalami 'over louded trafic'. Jika diibaratkan sebagai susunan antara dua sistem yakni sistem Jasmani (wujud fisik) dan sistem rohani (wujud sosial), maka terganggunya sistem sirkulasi kota mirip 'Kardiovaskuler' yang tak beres kerjanya. Dengan terganggunya kardiovaskur, jasmanipun menjadi tidak sehat. Pengaruhnya tentu pada sistem rohani kota. misalnya warga kota yang tinggal di jalan Majapahit, untuk pergi ke jalan Pandanaran saja harus berputar-putar melalui jalan- jalan yang sempit dan padat volume lalu-lintasnya. Secara ekonomis berarti harus mengadakan dana bahan bakar tambahan. Secara sosial jelas tidak bisa cuci mata. Begitu dengan para penghuni rumah-rumah tinggal di jalan-jalan yang 'over loaded trafic' tadi penghuninya akan kehilang-an ketenangan dari suasana privacy, sebagai gantinya adalah suara kendaraan yang gaduh, yang serba tidak mengenakan.


Jalan Sekitar

Penataan Simpanglima yang "Holistik

Satu ciri utama dari kota-kota di Indonesia adalah adanya alun-alun   sebagai   paru-paru   kota yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan  pemerintahan  maupun bangunan-bangunan umum lainnya.  Pada kota-kota yang tumbuh karena berdirinya suatu kerajaan, alun-alun selain men-jadi satu dengan tata ruang Kraton, juga memiliki arti magis yang berhubungan dengan kepercayaan yang dianut oleh rakyat setempat. Di alun-alun Utara Yogyakarta misalnya, ada "Ringin Kurung' (Pohon beringin yang dipagari) yang selain menjadi simbol pengayoman juga dipercayai  sebagai pohon  yang mempunyai kekuatan magis. Sedang pada kota-kota di pantai Utara Pulau Jawa yang tumbuh secara organis, alun-alun biasanya hanya merupakan satu bundaran (Square) di tengah persimpangan jalan.

Demikian pula dengan Simpang Lima, sebuah alun-alun baru yang dikelilingi oleh lima jalan, yakni: Jalan Gajah Mada, Jalan KH. Ahmad Dahlan, jalan Jendral A Yani, Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, dan yang keenam jalan  Airlangga.  Persimpangan  ini merupakan  tempat yang strategis bahkan boleh disebut salah satu sudut "Segitiga Komersial' (Johar - Tugu Muda - Simpang Lima) yang memiliki intensitas perdagangan sangat tinggi.

Asal muasal Simpang Lima yang terkenal ini bermula dari ide Presiden pertama RI Soekarno. Tatkala beliau melewati simpang empat jalan Pandanaran - jalan Jendral A Yani, jalan Gajah Mada - jalan Pahlawan (saat itu jalan Ahmad Dahlan belum ada) yang kanan kirinya masih sawah yang tergenang air di kala hujan. Beliau mendapat ide bahwa tempat itu baik untuk dibuat satu lapangan guna rapat umum yang mampu menampung sejuta rakyat. Presiden Soekarno juga mengusulkan untuk mendirikan Balai kota di tempat hotel Ciputra sekarang. Pelaksanaannya dengan cara gotong royong. seluruh warga Se-marang untuk menguruk sawah-sawah tadi dengan tanah. Dan akhirnya diresmikan tanggal 2 Juli 1969. Disitu Bapak Munadi (Gubernur Jawa Tengah waktu itu) mendapat inspirasi bahwa pada hakekatnya hari itu warga Semarang memindahkan alun-alun lama di kompleks pasar Johar ke alun-alun baru 'Simpang lima'.


Simpang Lima

Mitos 'Ideal City'

Menurut Julian Huxley, mitos mula-mula timbul ketika manusia menginginkan keterangan-keterangan tentang keajaiban dunia di sekelilingnya. Untuk itu dicari petunjuk-petunjuk yang berbau mistis yang dipercayai dapat mengungkap keajaiban tadi. Dan seringkali melalui mitos manusia mencari jalan menuju kepada kebaikan, keseimbangan dalam kehidupan. Dengan upacara bersih desa 'Saparan' seperti telah diceritakan dimuka, jelas dengan pembersihan halaman, saluran-saluran air kotor, pembersihan sampah, dan sebagainya, tentu lingkungan akan menjadi sehat serta nyaman, demikian pula air sendang tidak tercemar oleh kotoran-kotoran.

Memang pada saat manusia belum mampu mengungkap kegelapan melalui rasio, kepercayaan-kepercayaan akan mitos sebagai arah bagi kelakuannya akan merupakan pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Tetapi setelah ilmu pengetahuan berkembang dan manusia mampu menyingkap kegelapan melalui akal-budinya, istilah mitos menjadi lebih luas lagi. Tidak hanya sekedar cerita-cerita fiksi yang mistis, tetapi juga menyangkut teori atau ide-lde yang tidak mungkln terwujud.

Maka dari itu istilah mitos juga berlaku bagl teori-teori penataan kota yang Utopia. Seperti teori-teori penataan kota menurut para arsitek modernist di awal tahun 1920, tentang kota yang terdiri dari jalan-jalan yang lebar, gedung-gedung bertingkat di kanan-kirinya. Pendapat ini dimotivasi oleh keadaan soslal yang jelek di akhir abad ke 19 dimana kota-kota terdiri dari jalan-jalan yang sempit, rumah-rumah yang berjejal-jejal sumpek. Para modernist ini cenderung menyederhanakan hubungan sebab akibat antara tingkah-laku manusia dengan lingkungan fisiknya. Secara ekstrim mereka percaya bahwa lingkungan fisik dapat memotivator satu perubahan sosial, perubahan dari kondisi sosial yang jelek kearah perbaikan hidup. Teori ini ternyata gagal. Karena justru di gang-gang sempit dan kotak-kotak lift di dalam gedung bertingkat itulah gudang segala maksiat, mulai dari penodongan, pemerkosaan sampai ke pembunuhan. Dan yang digemborkan sebagai kota dan arsitektur yang 'ideal' kiranya hanya satu mitos saja.


Simpang Lima

Mitos

Salah satu kekayaan utama dari kebudayaan nusantara, konon adalah adanya beragam mitos, cerita rakyat yang sudah turun-temurun mewarnai dinamika kehidupan. Selain mitos-mitos pewayangan yang diserap dari kebudayaan Hindu-India terus diadaptasikan ke kebudayaan masing-maslng suku yang tersebar di seluruh kepulauan Indone¬sia, banyak sekali cerita-cerita rakyat yang tumbuh dari interaksi antara peristiwa-peristiwa alam dengan kekuasaan seorang raja. Mitos Nyai Loro Kidul di daerah Yogyakarta misalnya, erat sekali hubungannya dengan kepercayaan akan kelangsungan kerajaan Mataram di pedalaman. Sehingga pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan penanggalan Jawa, dilakukan upacara labuhan di Parang Teritis dengan membawa berbagai perlengkapan Kraton. Bahkan tata ruang kota Ngayogyakarta Hadiningrat-pun diilhami oleh kekuatan magis antara Gunung Merapi dan Laut Selatan sehingga 'As' Kra-ton serta Malioboro membujur dari Utara ke Selatan seperti benang merah yang menghubungkan 'Danyang' gunung Merapi di sebelah utara dan Nyai Loro Kidul dl Selatan.

Di samping mitos-mitos yang berkaitan dengan kekuasaan seorang raja, juga dikenal mitos-mitos yang berkaitan dengan kegotong-royongan masyarakat. Misalnya pada bulan 'Sapar' (Penanggalan Jawa), di daerah Boyolali dlkenal satu upacara bersih desa 'Saparan'. Upacara bersih desa inl dimotivasi oleh suatu mitos 'Danyang Kebakan' penunggu sumber air sendang yang akan marah jika di bulan 'Sapar' tidak diadakan upacara bersih desa.